[ THE REFLECTION ]
Sebuah kegelisahan menjadi pertanyaan.
Red Dragon tidak lahir dari keinginan untuk sekadar membangun sebuah organisasi. Ia lahir dari sebuah kegelisahan.
Suatu hari, Abdullah merenungkan kehidupan anak-anak muda di Segeran dan masyarakat di sekitarnya. Ada anak muda yang masih mempunyai mimpi, tetapi harus berhenti sekolah karena keadaan ekonomi keluarganya.
Ada yang ingin bekerja, tetapi tidak tahu pintu mana yang harus diketuk. Ada yang ingin mengubah kehidupannya, mempunyai kemampuan dan cita-cita, tetapi tidak mempunyai kesempatan untuk mewujudkannya.
Pertanyaan itu tidak berhenti pada persoalan pendidikan. Ada masyarakat kecil yang membutuhkan pekerjaan, keluarga yang ingin memperbaiki kehidupan ekonominya, orang yang menghadapi persoalan hukum tanpa akses pendampingan, serta mereka yang merasa diperlakukan tidak adil tetapi tidak tahu ke mana harus menyampaikan suaranya.
Ketika seorang anak ingin memperjuangkan masa depannya, tetapi bapak dan keluarganya sendiri sedang dalam keterbatasan dan tidak mampu membantunya, kepada siapa ia harus meminta pertolongan?
Banyak orang sebenarnya tidak meminta untuk dikasihani. Mereka hanya membutuhkan kesempatan, jalan keluar, dan seseorang yang bersedia berdiri bersama mereka.

